JeJakJeJak

Theme of The Year: “KAMPUNGKU YANG DAMAI”

Yippie..!!

Akhirnya tugas panitia 17an di dusunku selesai juga, klimaks sudah terlewati meski aku masih berhutang LPJ pada teman-teman panitia. Berarti tugas terakhirku adalah: mencari contoh LPJ! (soalnya aku belum pernah buat LPJ, jadi nggak tahu susunannya)

Sampai H-1, aku masih bingung gimana caranya supaya semua undangan tersebar tepat waktu. Sebenarnya ini bukan tugasku, tapi berhubung kekurangan personil & secara tidak langsung itu merupakan salah satu tanggung jawabku juga, akhirnya aku membantu sekretaris untuk menyampaikan semua undangan tirakatan itu.

(Sabtu, 16 Agustus)
Aku baru datang ke lokasi untuk bantu-bantu jam 3 sore. Sampai di sana juga cuma beberapa yang datang dan tugas yang harus dikerjakan nggak berat-berat amat, masalahnya panggungnya dah disiapin dari pihak penyewaannya (jadi tahun ini kami pakai panggung, sedangkan tahun-tahun sebelumnya enggak). Judul acara malam itu: “KAMPUNGKU YANG DAMAI” hehe pas banget sama keadaan di tempat tinggalku yang butuh kedamaian.

Terus jam 16.30 aku bantuin bungkus snack (maksudnya masukin makanan ke dalam kardus), terus jam 18.15 aku pulang. Satu jam kemudian, jam 19.30, aku datang ke lokasi tirakatan. Jam 20.19 acara dimulai (kalau tak salah sih, jam segitu).

Nah dari sekian acara yang ditampilkan malam itu, ada 3 acara yang terlihat cukup berbeda dibanding tahun lalu. Yang pertama: Jathilan. Tahu ‘Jathilan’ nggak? Jathilan tuh kesenian tradisional kayak kesenian kuda lumping, soalnya sama-sama pakai kuda lumping yang dalam bahasa jawa disebut ‘jaran kepang’ (iya kan ya..). Tapi bedanya, jathilan nggak makan beling kayak kesenian kuda lumping. Istimewanya pada acara malam itu, pemain jathilan yang biasanya orang dewasa dimainkan oleh anak-anak. Tapi ya nggak pake acara kesurupan segala kayak yang biasanya.

Kedua, pementasan drama “Ande-Ande Lumut” yang malah terlihat seperti ketroprak (lha wong ngomongnya seadanya, spontan, nggak pake skrip). Walau nggak direncanain, tapi banyak banget kelucuan yang terjadi sewaktu drama. Seperti: pertama kali Ande-Ande Lumut naik panggung, dia cuma pake celana pendek yang lebih tepatnya disebut ‘kolor’. Terus ada kleting yang tak sengaja jatuh ke belakang panggung. Dan lain-lain sebagainya..hehe

Ketiga, baru tahun ini ada pertunjukan pencak silat. Beberapa personilnya menunjukkan beberapa atraksi seperti: mematahkan batako menggunakan satu tangan (sumpah, ini pertama kalinya aku liat langsung ada orang yang mecahin batako kayak gitu, biasanya kan cuma liat dari TV), memecahkan kaca menggunakan tenaga dalam (cuma ditekan pake tangan aja kedengarannya kayak kejatuhan benda berat berkilo-kilogram), dan yang paling membuat penonton bergidik yaitu atraksi menggunakan telepati (katanya sih, telepati). Maksudnya, salah seorang pemain berusaha memecahkan balon yang dibawa oleh penonton, namun kedua mata pemain tersebut ditutup. Jadi pemain itu mencari posisi penonton yang sedang membawa balon terus mecahin balon yang dibawa penonton itu. Dan penonton yang ditunjuk adalah: ketua panitia 17an (soalnya dia duduk paling depan di antara penonton). Yang buat ekstrem, masnya itu bawa pisau gede (seukuran pisau dapur gitu) terus nyari-nyari ke arah penonton. Kontan orang-orang yang duduk paling depan pada menyingkir dari masnya itu.

Pertunjukan selanjutnya, masih masnya tadi yang ngelakuin, yaitu mengendarai motor dengan mata tertutup sambil melindas pemain lain. Tapi di atas tubuh orang itu diletakkan sebuah papan untuk memudahkan jalan motor itu nanti. Cuma gitu aja? Ya enggak dong, nggak seru kalau cuma segitu doang. Masih ada tantangan lain: adanya penonton yang dengan sukarela mau dibonceng masnya itu. Intinya gini deh, masnya harus mengendarai motor sambil boncengin orang dengan mata tertutup lalu melindas pemain lain. Tebak deh siapa korbannya..Yupz! That’s me! Korban selanjutnya setelah sang ketua adalah wakil ketua, dan itu AKU!!! (Jadi ini judulnya ‘menggunakan ketua & wakil ketua sebagai tumbal’!)

Awalnya yang ditunjuk tuh tetanggaku yang duduk di depanku, jadi aku ya tetap duduk tenang. Tapi kok kemudian yang didatangi aku?? Otomatis aku jadi bingung dan celingukan. Di tengah desakan orang-orang dan waktu yang semakin malam, akhirnya aku memutuskan untuk jadi sukarelawan meski tidak sukarela.

Begitu naik motor, masnya muter dulu terus habis itu baru siap-siap melintas di atas tubuh rekannya (masih dengan mata tertutup, tentunya). Pas lagi siap-siap, aku mayakinkan diriku, “Tenang Fa, semuanya akan baik-baik aja. Masa’ masnya mencelakakan temennya sendiri? Nggak mungkin kan? Makanya tenang aja deh..” Eh begitu dah jalan, kontan aku langsung tutup mata. Pas udah mau berhenti, aku hampir jatuh. Untungnya aku refleks pegangan sama masnya, jadi nggak jatuh. Duh, gara-gara itu aku jadi malu banget! Mana difoto, pula! Pasti keliatan ekspresiku yang ketakutan. Dasar! Hiks..hiks..Aku malu.

Akhirnya acaranya selesai jam 23.50 (kalau tidak salah). Dan aku baru pulang jam 00.40, setelah makan dan beres-beres. Tapi aku baru tidur jam 02.30 soalnya aku menghabiskan 37 menit sebelumnya untuk menelpon temenku, itung-itung manfaatin promo Rp 1/nelpon-nya IM3 (meski tiap 10 menit sekali keputus).

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.